Pernahkah kamu bertanya-tanya, mengapa air laut bisa naik dan turun setiap hari?

Hal itu terjadi karena adanya gaya gravitasi yang bekerja antara Bumi, Bulan, dan Matahari sehingga menyebabkan massa air laut bergerak naik (pasang) dan turun (surut) secara berkala. Fenomena ini merupakan salah satu contoh nyata bagaimana konsep fisika bekerja dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena gelombang pasang surut air laut merupakan salah satu peristiwa alam yang dapat dijelaskan melalui konsep-konsep fisika, khususnya pada bidang mekanika, gravitasi, dan gelombang. Pasang surut terjadi akibat interaksi gaya gravitasi antara Bumi, Bulan, dan Matahari yang menyebabkan permukaan air laut mengalami kenaikan (pasang) dan penurunan (surut) secara periodik. Fenomena ini tidak hanya menjadi objek kajian dalam oseanografi, tetapi juga menunjukkan bagaimana hukum-hukum fisika berperan dalam mengatur berbagai proses alam yang terjadi di Bumi.

Fenomena pasang surut, Bulan memberikan pengaruh gravitasi terbesar terhadap air laut karena jaraknya jauh lebih dekat ke Bumi dibandingkan Matahari. Gaya tarik tersebut menyebabkan massa air laut tertarik ke arah Bulan sehingga permukaan laut mengalami kenaikan atau pasang. Bagian sisi Bumi yang berlawanan juga terjadi pasang akibat adanya gaya sentrifugal yang muncul karena sistem rotasi Bumi dan Bulan mengelilingi pusat massanya, akibatnya dalam satu hari umumnya terjadi dua kali pasang dan dua kali surut.

Pasang surut air laut selain dipengaruhi oleh gravitasi Bulan, Matahari juga memberikan kontribusi terhadap pasang surut, ketika Matahari, Bulan, dan Bumi berada pada satu garis lurus saat fase bulan baru atau bulan purnama, gaya gravitasi keduanya saling memperkuat sehingga menghasilkan pasang purnama (spring tide), yaitu kondisi ketika tinggi pasang menjadi maksimum. Posisi saat Matahari dan Bulan membentuk sudut sekitar 90ยฐ terhadap Bumi pada fase kuartal pertama dan kuartal ketiga, gaya gravitasi keduanya saling mengurangi sehingga menghasilkan pasang perbani (neap tide), yaitu pasang dengan amplitudo yang lebih kecil.

Gelombang dalam fisika, pasang surut termasuk gelombang mekanik berperiode panjang karena perambatannya memerlukan medium berupa air laut. Berbeda dengan gelombang laut yang dibangkitkan oleh angin, gelombang pasang surut memiliki periode sekitar 12 hingga 24 jam. Energi gelombang tersebut dipengaruhi oleh gaya gravitasi, rotasi Bumi, kedalaman laut, bentuk garis pantai, serta topografi dasar laut. Tinggi pasang surut di setiap wilayah tidak selalu sama meskipun dipengaruhi oleh gaya gravitasi yang sama.

Konsep energi potensial gravitasi juga berperan dalam fenomena ini. Ketika air laut mengalami pasang, energi potensial air meningkat karena posisinya lebih tinggi, saat air kembali surut, energi potensial tersebut berubah menjadi energi kinetik yang menghasilkan arus pasang surut. Perubahan energi inilah yang saat ini mulai dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Pasang Surut (PLTPS), yang mengubah energi gerak air menjadi energi listrik menggunakan turbin.

Fenomena pasang surut memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Nelayan memanfaatkan informasi pasang surut untuk menentukan waktu melaut, kapal-kapal menggunakan data pasang surut saat bersandar di pelabuhan, sedangkan masyarakat pesisir menggunakannya sebagai acuan untuk mengantisipasi banjir rob. Saat ini, pengamatan pasang surut dilakukan menggunakan sensor ultrasonik, sensor tekanan, maupun sensor tinggi muka air yang dikendalikan oleh mikrokontroler. Data yang diperoleh kemudian dikirim melalui sistem Internet of Things (IoT) sehingga dapat dipantau secara real-time.


PENGURUS HIMAFI VECTORIS 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *